oleh

Tidak Mampu Berantas Mafia Mercuri dan Sianida di Gunung Botak, HMI MPO Jakarta Desak Copot Kapolda dan Kapolres Buru

PILARNEGARA.COM, JAKARTA, – Masa aksi Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Cabang Jakarta menggelar aksi unjuk rasa di patung kuda jln. Medan Merdeka Barat Jakarta, 10/3/2023.

Koordinator aksi, Haerun Tasane/arnol dalam orasinya mengatakan” Gunung Botak saat ini aktif dan masif berbagai kegiatan praktek illegal mining jenis kegiatan pengolahan Tong di desa wabloi milik Haji Komar yang dikelola Saudara Rais asal ternate, tong Unit 11 Grandeng milik Yadi Solisa, Mas Budi unit 11, dan tong Desa Dava pemilik lokasi saudara Aras yang dikelola oleh Marsel”.

Selain itu, aktivitas dompeng di tanah merah, gunung batu, dan longsoran selama ini aktif beroperasi pasca penertiban oleh aparat gabungan belum beberapa bulan lalu.

Baca Juga :  Selama Ramadhan, Polres Padangsidimpuan Bekuk Pengguna Narkotika

Bahkan perendaman ramai dilokasi anahoni dan gunung batu sampai saat ini para penambang ileggal yang di modali oleh pengusaha pembeli emas atau cukong-cukong terus menyuplai dana pembuatan bak perendaman serta kebutuhan sianida, kapur, kostik dan perbekalan pekerja. Belum juga aktivitas tromol atau glundung diwilayah pemukiman warga terus menerus mengolah memakai mercuri yang di dapat dari oknum aparat yang nakal.

Aksi HMI MPO juga membentangkan spanduk yang bertuliskan Indonesia Darurat Mercuri Jokowi gagal dan Copot Kapolda dan Kapolres Pulau Buru karena dinilai sengaja membiarkan para mafia-mafia pertambangam ileggal bekerja sesuka hati mengeruk emas demi kepentingan kelompok dan nyata-nyata merugikan negara setiap tahunnya.

Baca Juga :  Jelang Idul Adha, Kapolda Aceh Serahkan Hewan Qurban Kepada Masyarakat

Untuk itu HMI MPO Cabang Jakarta mendesak Polhukam agar serius menangani masalah darurat mercuri dan sianida yang telah melebihi ambang batas di pulau buru, jika hanya menbang pohon tanpa mencabut akarnya maka akan selamanya subur praktek kejahatan di pertambangan dan program Pemerintah Pusat untuk tata kelola pertambangan akan jauh dari keberhasilan.

Bahwa kondisi tambang gunung botak dan gogorea menurut informasi penambang terus berkegiatan dan aparat Polsek Waeapo pun tahu hal itu, namun menutup mata tentang operasi tong, dompeng, perendaman dan tromol-tromol tersebut.

Arnol berjanji jika pemerintah tidak mengambil sikap maka, akan menggelar aksi yang lebih besar dan jilid ke 2 akan aksi di kantor Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) sekaligus menyerahkan dokumen kegagalan pemerintah menangani mercuri dan sianida yang telah membahayakan kesehatan manusia, tutupnya (Rid).

Baca Juga :  Makruf Efek di Debat Cawapres Memukau Warga Banten
Loading...

Baca Juga